Badilag Serius Jajaki Kerja Sama dengan LIPIA AKRAB. Dirjen Badilag dan Direktur LIPIA berbincang akrab dan berjabat tangan usai pertemuan. Jakarta l badilag.net Ditjen Badilag Mahkamah Agung makin serius menjajaki kerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab di Indonesia (LIPIA). Untuk keperluan itu, Selasa (15/6/2010), Dirjen Badilag Wahyu Widiana menemui Direktur LIPIA, Dr. Abdullah bin Hubai al-Sulami, di kampus LIPIA, Pejaten, Jakarta Selatan. Dalam pertemuan itu, Dirjen Badilag menyampaikan bahwa kemampuan berbahasa Arab sangat penting bagi hakim peradilan agama. “Bahkan salah satu syarat agar bisa lulus ujian hakim adalah bisa membaca kitab berbahasa Arab,” ujarnya. Pentingnya bahasa Arab bagi hakim agama disebabkan hukum yang diterapkan di peradilan agama pada dasarnya adalah hukum Islam. Tidak mungkin, kata Dirjen Badilag, seorang hakim dapat menguasai hukum Islam dengan baik tanpa memiliki kemampuan berbahasa Arab yang baik.
Dengan latar belakang seperti itu, Ditjen Badilag selalu berupaya meningkatkan kemampuan berbahasa Arab warga peradilan agama. Saat ini, ada dua strategi yang telah berjalan. Yakni mendirikan website berbahasa Arab dan menggelar diskusi bulanan dengan memakai bahasa yang sama. “Kami ingin suatu ketika Yang Mulia Bapak Direktur berkenan memberikan materi dalam diskusi tersebut,” kata Wahyu Widiana. Dirjen Badilag juga berharap ada kerja sama yang lebih konkrit antara dua lembaga ini. Kerja sama itu ditandai dengan MoU (Memory of Understanding), dengan fokus pengembangan bahasa Arab dan hukum Islam. "Kami juga mohon adanya short course lanjutan mengenai hukum Islam dan ekonomi syariah di Universitas Imam Muhammad bin Saud di Riyadh, sebagaimana pernah dilaksanakan tahun lalu yang melibatkan 37 hakim," kata Dirjen Badilag. Untuk keperluan ini, Ketua MA telah mengirim surat ke Rektor Universitas Imam Muhammad bin Saud, dan tembusannya diberikan kepada Dubes Arab Saudi dan Direktur LIPIA. Selaku Direktur LIPIA, Dr Abdullah menyambut baik keinginan Dirjen Badilag. “Keduataan Besar kami sudah memberi lampu hijau,” ungkapnya. Dia menegaskan, LIPIA dan beberapa cabangnya diharapkan dapat makin mempererat hubungan bilateral Indonesia dan Arab Saudi. “Pemerintah Arab Saudi memberikan perhatian yang besar kepada Indonesia—negara muslim terbesar di dunia,” kata Dr Abdullah. Sama-sama butuh Sejak didirikan pada 1980-an, LIPIA telah menghasilkan lebih dari sembilan ribu alumni. Mereka tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Sebagian besar berkecimpung di dunia pendidikan, namun ada juga yang berkiprah sebagai hakim di pengadilan agama. “Mereka bagus-bagus,” kata Dirjen Badilag. Saat ini, LIPIA juga memiliki Fakultas Syariah. Mereka berencana memberi kesempatan kepada para mahasiswa semester akhir di fakultas ini untuk mengunjungi PA-PA di Jakarta. “Kami ingin melihat langsung pengadilan,” kata Dr Zed al-Kurun, seorang Ketua Jurusan di Fakultas Syariah LIPIA. Lebih jauh, dia mengatakan, pihaknya ingin mendapat informasi yang lebih detil mengenai persyaratan menjadi hakim peradilan agama. Informasi tersebut akan disampaikannya kepada para mahasiswa. “Kalau MA berkenan, kami akan mencalonkan lulusan-lulusan terbaik,” Dr Zed menegaskan. Dirjen Badilag mengaku senang dengan respon positif yang diberikan pihak LIPIA. Ke depan, pihaknya berharap kerja sama ini bisa diwujudkan dalam kerangka kerja yang lebih konkrit. “Kami akan sampaikan ke pimpinan MA, dan saya yakin akan menyambutnya dengan baik,” pungkasnya. (hermansyah) |